Suling Bambu dan Nusawantoro

(Maaf ini Tulisan bukan karena saya merindukan hidup di jaman dulu atau tentang realita suatu bangsa yang bernama Nusantara, namun ini hanya imajinasi otak saya saja muncul ketika ngopi, mendengarkan gamelan dan memandang perkutut)

Angin bertiup lirih nglaras alunan ladrang sembawa dan suara hangat perkutut. Membelah rambut sang gadis desa yang semakin panjang. Saat ini musim panen warga bersiap mengadakan sedekah bawana, bentuk syukur mereka atas semesta. Menyiapkan ubo rampe sayur dan buah dan nasi berbentuk lingga yang melambangkan hubungan mereka yang mengerucut yaitu kepada Yang Maha Satu. Sawah adalah sumber kehidupan bangsa  Nusantara yang tertata rapi dalam paugeran dan yang runtut dan lengkap. Tatamadya, tatabusono, tatasusilo mereka ngugemi dan sudah ada dalam alam bawah sadar mereka.

“Kukusing dupo kumelun…” kalimat pak Dalang Ki wangsa Sudarma khusyuk karena pada kalimat ini semacam mantra ketika Dalang nyawiji rasa kepada Sang Penguasa Jagad. Wayang kulit dengan lakon Sri Sadana menghibur mental dan spiritual warga desa ini. Tercermin dalam kisah itu tentang makna Padi, Padi yang sangat dijunjung dan dihargai tidak hanya materi karena membuat orang hidup. Padi adalah manifestasi dari Dewi Sri sehingga mereka menghargai dengan rasa dan raga, padi itu dipetik dengan ani-ani yang nantinya padi akan ditumbuk dalam lesung, menumbuk pun harus dengan rasa yang pas, apabila tak pandai maka padi malah berubah menjadi tepung. Tumbuh subur menyejahterakan bangsa Nusantara, padi unggul setinggi satu setengah meter sehingga memanennya pun berdiri. Tepat menjelang subuh wayang pun paripurna, saatnya warga gotong royong lagi merapikan segalanya.

Sudah waktunya membuka caping karena sebentar lagi adzan dhuhur, Gadis Desa itu berjalan layaknya pragawati menyisir “galengan”  sehingga dia mau tak mau harus mencincingkan jariknya,. Kulitnya yang sawo matang tertutupi baju dan selendang kawung nya juga rambutnya yang lurus panjang.

Gadis itu membawa makanan dan minuman untuk Bapak dan kakaknya untuk dimakan bersama di bawah pohon Munggur,  Adzan Dhuhur terdengar dari kejauhan meski tanpa pengeras suara itu menandakan mereka  harus pulang dan menghadap Yang Satu.

Menjelang sore dia Sang Perjakan tampa menggembalakan kerbaunya ditemani serulingnya yang menggetarkan hati burung-burung jalak, mendekat berinteraksi mesra dengan kutu-kutu kerbau.

Bak seruling Rumi, alunan suling miring Sang Tampan membuat Mbah Arjo semakin khusyuk  “ngarit” memotong hijaunya rerumputan dan tanaman krowot untuk kambingnya di rumah. Menurut Sang Tampan, seruling adalah instrument yang mewakili 4 unsur kehidupan sehingga tak heran ketika era majapahit suling suliwa membuat hati adik dari putri Kedaton Tri Buana tungga Dewi luluh dengan putra cantrik bernama suliwa.

Air, Tanah, Angin dan api  itulah unsur kehidupan. Bambu bukanlah tanaman yang sembarangan bagi bangsa Nusantara, mereka meyakini Bambu membawa banyak makna dalam hidupnya. Itulah yang ada dalam suling, bambu ditanam dalam tanah pasti juga ada air untuk tumbuh si bambu, Bambu dipotong sesuai mangsa yang pas, direndam dalam air selama 2 lapan dan di taruh di atas jeding selama 10 hari. Dalam proses ini bambu sudah mendapatkan unsur ketiga yaitu api, setalah itu pun bambu di tusuk menggunakan besi panas lalu dikorek sesuai tangga nada yang disepakati. Jadilah seruling dan sekarang waktunya dilaras, dalam tahap ini lah unsur keempat hadir melengkapi jiwa seruling. Udara ,. Ya Udara ,angin yang pas untuk mendapatkan nada yang harmoni.

Sebenarnya masyarakat Nusantara sudah memahami makna dari keempat unsur kehidupan tersebut, semuanya memiliki manifestasi sendiri – sendiri tentang jagad gede dan jegad cilik.. Jagad Gede ada dalam jagad cilik yaitu diri manusia sendiri kata Mbah Mudin. Mbah Mudin ini tak hanya sebagai tokoh Agama dalam desa ini, beliau juga sebagai Tokoh Budaya sehingga ketika ada ijab, ada pertikaian manusia, Mbah Mudin ini harus turun tangan dan masyarakat Desa ini tetap patuh kepada Mbah Mudin sebagai tokoh kasepuhan….

Bersambung ….

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s